Apakah konversi minyak tanah ke LPG (botol kecil 3 kg) merupakan Program Keluarga Berencana Jilid Dua?

Coba perhatikan, seingat saya, tidak pernah ada waktu satu minggu pun didalam acara TV, yg tidak mengetengahkan berita ttg kebakaran akibat tabung LPG kecil 3 kg yg meledak, lalu menyebabkan kematian beberapa warga sekitar ledakan, dan membakar sederet rumah warga. Aparat yg memeriksa TKP dgn sangat “enteng” nya, senantiasa mengatakan kejadian tsb akibat warga lalai: slang gas LPG bocor atau regulator rusak! Ini diperiksa beneran atau sekedar asal komentar (karena sebagai aparat, walau ucapan itu cuman “waton njeplak”, toch enggak ada yg berani membantah)! Warga masyarakat kecil terus yg disalahkan!

Coba kita (khususnya para aparat) flash back, bertahun-tahun yg lalu, jauh sebelum sebelum ada program konversi, rasanya para ibu rumah tangga Indonesia juga sudah enggak underdog (ketinggalan jaman) banget, sudah ratusan ribu bahkan mungkin jutaan yg telah pakai kompor gas LPG! Tetapi, apa saat saat tersebut juga lalu setiap hari ada kebakaran atau korban jiwa akibat kompor gas yg meledak? Apa hal ini pernah dievaluasi? Kalau memang selang gas yg bocor, setahu saya, kebakaran akan segera terjadi tepat sesaat setelah ibu-ibu tsb menyalakan kompor saat pertama kali! Dan, sekali lagi, rasanya para ibu Indonesia juga enggak underdog banget deh, kalau ada kebocoran, mereka pasti tahu dari mencium bau gas yg timbul. Kalau regulatornya yg salah, apa beda regulator tabung gas besar (14 Kg) dgn regulator tabung gas kecil (3 Kg)? Apa pernah ada evaluasi ttg hal ini?

Apa pernah ada pengujian sample secara statistic terhadap tabung gas kecil, dari satu batch diambil sejumlah tertentu sesuai rumusan statistic, lalu diuji keamanannya, bila yg cacat lebih dari sekian persen, maka seluruh batch harus dimusnahkan? Apa pra syarat kemaampuan pabrik pembuat tabung gas kecil, apa sesuai SNI (kalau sesuai DIN jelas enggak nutut), apa pula pointers yg harus dipenuhi dlm memproduksi tabung kecil tersebut? Apa enggak ada pemikiran utk membuat suatu regulator, yg bila penggunaan gas lebih dari dosis yg wajar, karena selang bocor dll, lalu regulator tersebut otomatis bisa menutup sendiri ( otomatic shut off ball valve, spring powered, yg prinsip kerjanya seperti system “blokiropka”, semacam dosierung klapan pada pendingin diesel 37D ex Rusia, buatan 1945)?

Kalau enggak ada jawaban atas pertanyaan (2) saya didepan, maka, bolehkan kalau saya bilang, bahwa konversi minyak tanah ke gas LPG (tabung kecil) memang merupakan Program Keluarga Berencana jilid dua: kalau enggak bisa dibatasi kelahirannya lewat Program KB, ya yg sudah terlanjur lahir saja yg dikurangi jumlahnya dgn ledakan tabung gas LPG! Dan, sasaran operasinya juga sudah pas banget: masyarakat kecil!

Jadi, walau DPR tahu benar ttg hal ini, ya mereka merasa enggak perlu risaulah, karena, toch anggota DPR enggak ada yg berasal dari masyarakat kecil! Maaf ya, saya bukan “Mas-sinis” ( lain dari masinis kereta api lho ya, tetapi, “mas yg sinis”, yg kerjanya cuma bisa kritik doang), tetapi, ingat, saya juga bisa menyarankan sistem analisanya dan bahkan mengusulkan way out!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s