Impian Sumatera Utara yang Sulit Terwujud

Bandar Udara Polonia Medan telah lama menyandang predikat black star di dunia penerbangan internasional. Predikat ini melekat karena Bandar Udara Polonia sering menjadi penyebab tak langsung dari tragedi kecelakaan pesawat. Lokasinya yang dikelilingi permukiman padat penduduk, berdekatan dengan pusat kota, serta tak jauh dari punggung Gunung Sibayak membuat bandara ini memang rawan kecelakaan.

Sedikitnya lima kecelakaan pesawat yang tergolong besar, karena menewaskan puluhan orang, terjadi tak jauh dari Bandara Polonia. Tragedi pertama terjadi 4 April 1980 saat pesawat Fokker F-28 milik maskapai Garuda Indonesia Airways rute Palembang-Medan jatuh dan terbakar di Bandara Polonia, menewaskan 26 orang penumpang. Lima tahun kemudian, tepatnya 20 November 1985, pesawat Hercules C-130 H-MP milik AURI (TNI Angkatan Udara) menabrak dinding pegunungan Sibayak dan menewaskan 10 orang awaknya. Dua tahun berikutnya, pada 4 April 1987, pesawat DC-9 milik Garuda rute Banda Aceh-Medan jatuh saat mendarat dalam cuaca buruk di Polonia dan menewaskan 28 penumpang serta awak.

Lalu, tragedi terburuk dalam sejarah kecelakaan pesawat di Indonesia, 26 September 1997 saat pesawat Airbus A 320 milik Garuda jatuh di Buah Nabar, kawasan pegunungan tak jauh dari Sibayak. Kecelakaan ini menewaskan 222 penumpang dan 12 awak pesawat. Dianggap terburuk karena, hingga sekarang, inilah jumlah korban tewas terbanyak dalam kecelakaan pesawat di Indonesia.

Yang paling mutakhir tentu saat pesawat Boeing 737 200 milik maskapai Mandala gagal take off dari Bandara Polonia pada 5 September 2005. Pesawat terempas di ujung landasan, menabrak rumah penduduk dan berbagai jenis kendaraan di Jalan Jamin Ginting, Medan. Sebanyak 117 penumpang dan awak pesawat tewas. Jumlah korban masyarakat di darat mencapai 41 orang.

”Banyak obstacle, penghalang pesawat bermanuver di sekitar bandara. Makanya, Polonia menyandang predikat black star karena banyak titik rawan kecelakaan pesawat,” ujar Humas PT Angkasa Pura II Bandara Polonia Firdaus.

Kondisi

Memang kondisi Bandara Polonia saat ini tak seperti ketika tahun 1872 pengusaha partikelir asal Polandia, Baron Michalsky, mendapat konsesi tanah untuk kebun tembakau di Sumatera Timur dari pemerintah kolonial Hindia Belanda. Tanah konsesi inilah yang menjadi cikal bakal bandara. Baron menamainya Polonia sesuai dengan tanah kelahirannya, Polandia. Polonia merupakan nama Latin untuk Polandia. Namun, tahun 1879, tanah konsesi milik Baron ini berpindah ke perusahaan perkebunan Deli Maatschappij. Saat terdengar kabar akan ada penerbangan pesawat Fokker ke Hindia Belanda oleh pionir penerbangan berkebangsaan Belanda, Van der Hoop, Deli Maatschappij menyediakan sebidang tanah di Polonia untuk menjadi landasan bagi pesawat tersebut. Akan tetapi, baru pada tahun 1928 lapangan terbang Polonia resmi digunakan untuk pesawat milik Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij (KNILM), anak perusahaan Koninklijke Luchtvaart Maatschappij (KLM).

Saat ini lahan Bandara Polonia menjadi milik TNI AU. Bandara Polonia sekarang dikepung berbagai perumahan mewah. Satu per satu lahan yang dulunya masuk areal bandara dijual untuk perumahan. Di ujung landasan, membujur salah satu jalan utama di Medan, Jalan Jamin Ginting, yang setiap hari dimacetkan oleh lalu lintas berbagai jenis kendaraan. Tak hanya itu, rumah warga di sekitar ujung landasan termasuk padat. Kepadatan rumah warga jelas terlihat dari pesawat ketika hendak mendarat di Polonia.

Menurut Firdaus, sebenarnya sudah sejak 1980-an berkembang wacana untuk memindahkan Bandara Polonia. Tahun 1994 dilakukan survei untuk menentukan lokasi bandara baru sebagai pengganti Polonia. ”Ada tiga lokasi yang disurvei, yakni Kota Rantang di Langkat, Percut Sei Tuan dan Kualanamu di Deli Serdang,” ujar Firdaus.

Pilihan kemudian jatuh ke Kualanamu. Tahun 1997, PT Angkasa Pura II kemudian membebaskan lahan seluas 1.365 hektar di Kualanamu yang sebagian besar merupakan bekas hak guna usaha PTPN II. Namun, sejak itu, gaung pembangunan bandara baru seperti menguap.

Hingga kemudian terjadi kecelakaan pesawat Mandala tahun 2005. Tak tanggung-tanggung, di antara korban tewas dalam tragedi tersebut adalah Gubernur Sumatera Utara Tengku Rizal Nurdin dan dua anggota Dewan Perwakilan Daerah asal Sumut, Abdul Halim Harahap dan Raja Inal Siregar yang juga mantan Gubernur Sumut. Saat acara pengebumian Rizal Nurdin, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono seperti diingatkan kembali bahwa pemerintah pusat memiliki pekerjaan rumah, membangun bandara baru di Sumut.

Tak lama kemudian, Jusuf Kalla, wakil presiden ketika itu, mendorong percepatan pembangunan bandara baru. Kalla menargetkan bandara baru tersebut bakal beroperasi Oktober 2009. Ketika itulah semuanya seperti dikebut. PT Angkasa Pura II yang bertanggung jawab terhadap pembangunan sektor privat, seperti terminal penumpang dan terminal kargo, sempat hendak mengajukan kredit kepada sindikasi perbankan nasional. Tak tanggung-tanggung, pembangunan sektor privat ini menelan biaya hingga Rp 1,28 triliun.

Presiden pun beberapa kali menyinggung soal anggaran untuk membangun bandara baru dalam pidatonya di depan DPR. Sayang, pidato Presiden tetap tak menjamin pembangunan bandara baru berjalan lancar. Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan selaku penanggung jawab pembangunan sektor publik justru bak keong, lambat jalannya. Bagian yang menjadi sektor publik atau sisi udara, antara lain, adalah landas pacu (runway), taxi way, apron (tempat parkir pesawat), hingga fasilitas menara kontrol. Pembangunan sektor publik selalu molor dari target.

Alasan yang diungkapkan selalu sama, pemerintah memiliki anggaran terbatas. Di tengah keterbatasan anggaran, muncul masalah baru. Kondisi tanah yang menjadi landas pacu tak stabil jika harus menerima beban berat sebagai tempat tinggal landas dan mendarat pesawat, apalagi yang berbadan besar.

Harus ada perlakuan khusus terhadap tanah yang dijadikan landasan. Salah satu perlakuan khusus tersebut adalah pemasangan vertical drain, suatu alat untuk mengeringkan kadar air dalam tanah. ”Kalau untuk cepat selesai, vertical drain-nya harus dibangun rapat. Ini membutuhkan dana besar. Sementara kemampuan APBN membiayainya terbatas. Bisa saja vertical drain-nya tak rapat, tetapi butuh waktu lama,” kata Pimpinan Tim Manajemen Konstruksi Sektor Privat Priadi.

Keterlambatan pembangunan sektor publik ini yang pada akhirnya membuat rencana pengoperasian bandara baru selalu molor. Dari mulai Oktober 2009, direvisi lagi menjadi akhir 2010. Belakangan, target operasi akhir 2010 dipastikan meleset. Menurut Priadi, rapat terakhir dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara dinyatakan operasional bandara baru direncanakan pada akhir 2012.

Bandara megah

Dalam detail desain, bandara baru pengganti Polonia ini diproyeksikan menjadi bandara yang sangat megah. General Manager PT Angkasa Pura II Bandara Polonia Bram Bharoto Tjiptadi menuturkan, bandara baru ini direncanakan menjadi saingan Bandara Changi (Singapura) dan Kuala Lumpur International Airport (Malaysia). ”Kami memang diperintahkan pusat harus jadi sparring Changi atau Kuala Lumpur,” kata Bram.

Untuk bisa bersaing dengan Changi dan Kuala Lumpur, Firdaus mengatakan, lokasi bandara baru berada dalam lintasan penerbangan internasional dari Eropa, Asia, ke Australia. ”Jauh lebih dekat dibandingkan dengan Kuala Lumpur atau Changi. Kami bisa menawarkan biaya parkir pesawat lebih murah dibandingkan dengan kedua bandara tersebut sehingga bandara baru ini nantinya jadi hub internasional menggantikan Changi atau Kuala Lumpur,” kata Firdaus.

Belum ada nama resmi untuk bandara baru ini. Secara resmi, proyeknya memang bernama Pembangunan Bandara Medan Baru. Akan tetapi, karena letaknya di Kualanamu, sering kali proyek bandara baru ini disebut Bandara Kualanamu.

Konsultan perencana sektor privat bandara baru ditangani PT Wiratman & Associates, perusahaan yang sama yang menjadi konsultan jembatan Selat Sunda. Arsitektur bangunan terminal penumpang jauh berbeda dengan Polonia yang masih menyisakan sedikit bentuk tradisional bangunan Sumut. Arsitektur terminal penumpang bandara baru sengaja didesain semodern mungkin. Panel baja mendominasi konstruksi bangunan. Atap terminal didesain agar bisa memberikan cahaya matahari sebanyak mungkin.

”Dinding terminal penumpang hampir seluruhnya menggunakan panel kaca sehingga memungkinkan penumpang mendapatkan panorama ke segala arah. Termasuk panorama yang sangat bagus ke arah laut,” ujar Sekretaris Project Implementation Unit Bandara Kualanamu PT Angkasa Pura II Sutjipto.

Bandara baru ini nantinya memiliki terminal penumpang tiga lantai berukuran hingga 90.000 meter persegi dan dapat menampung hingga 8 juta penumpang setiap tahun. Bandingkan dengan Polonia yang hanya memiliki kapasitas 900.000 penumpang, tetapi pada kenyataanya disesaki hingga 5 juta penumpang setiap tahunnya. Terminal kargo bandara baru dibangun sebesar 13.000 meter persegi dan berkapasitas 65.000 ton.

”Bandara baru ini nantinya memang menjadi bandara pertama di Indonesia yang berkonsep one stop shopping,” ujar Firdaus. Fasilitas lain yang dibangun adalah delapan aviobridge atau garbarata. Landas pacu yang dibangun memiliki panjang 3,7 kilo meter dengan lebar 60 meter dengan 33 parking stand. ”Lebar runway-nya saja sudah lebih lebar dari Bandara Soekarno-Hatta. Dengan panjang runway 3,7 kilometer, pesawat terbesar bisa mendarat di sini,” ujar Sutjipto.

Tak hanya itu, karena lokasi bandara baru ini berjarak sekitar 45 kilometer dari Polonia, dengan waktu tempuh dari Medan sekitar satu hingga dua jam, direncanakan dibangun jalur kereta api langsung menuju bandara. Tak terlalu sulit, mengingat lokasi bandara berdekatan dengan jalur kereta api di Sumut.

”Jarak bandara dari stasiun kereta api terdekat hanya sekitar 3 km. Jadi rel baru yang akan dibangun hanya sepanjang itu,” kata Priadi. Menurut Priadi, fasilitas city check in juga rencananya dibangun di Medan, tak jauh dari Stasiun Kereta Api Medan. ayangnya, dari semua rencana pembangunan tersebut, baru terminal kargo yang sudah 100 persen rampung. Bangunan terminal penumpang hingga awal Agustus kemajuannya telah mencapai 65 persen. Priadi mengatakan, sesungguhnya PT Angkasa Pura II sanggup menyelesaikan terminal penumpang pada akhir 2010.

sumber: http://m.kompas.com/news/read/data/2010.08.27.03030580

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s